Pencarian

Custom Search

22 Desember 2017

Pengertian Digital forensik adalah

Tidak ada komentar :
Digital Forensics didefinisikan sebagai metoda ilmiah untuk melakukan identifikasi, pengumpulan, pemindahan, penyimpanan, analisis, presentasi dan distribusi dan/atau pengembalian terhadap arsip elektronik.


Digital Forensics yang merupakan sebuah kepentingan yang signifikan dalam satu dekade terakhir bukan hanya disebabkan oleh adanya peningkatan jumlah insiden keamanan informasi selama periode tersebut, tetapi juga karena fakta bahwa masyarakat menjadi lebih tergantung pada teknologi informasi. Melakukan penyelidikan Digital Forensics terhadap arsip elektronik membutuhkan proses standar formal yang harus diikuti. Saat ini tidak ada standar internasional yang menetapkan proses pemeriksaan Digital Forensics. Dalam bab ini terdapat usulan terhadap model proses penyelidikan Digital Forensics yang harmonis. Model yang diusulkan iteratif dan multi-tier. Di sini diperkenalkan istilah "tindakan paralel", yang didefinisikan sebagai prinsip-prinsip yang harus diterjemahkan ke dalam tindakan dalam proses investigasi Digital Forensics.

Di Indonesia, bidang penyelidikan Digital Forensics belum membentuk suatu kerangka kerja formal antara praktisi hukum dan penyidik. Arsip Elektronik selayaknya dapat digunakan untuk sistem peradilan, dipahami hakim dan dipahami pengambil kebijakan di garis depan kurva teknologi. Beberapa model Digital Forensics yang harus menetapkan titik temu antara penguji Digital Forensics dan sistem peradilan sebagai proses mendapatkan bukti yang autentik. Definisi autentik sendiri di sini adalah bebas dari gangguan dan dapat dipercaya serta dapat diandalkan.



Di dunia Internasional sendiri, belum ada standar tentang model dalam proses investigasi Digital Forensics. Dalam sistem hukum tertentu, bukti harus disimpan selama bertahun-tahun untuk diperiksaan ulang oleh pengadilan dalam kasus banding, atau tanpa batas waktu dalam kasus kejahatan yang belum terpecahkan.

Metoda digital forensik terdiri dari dua belas tahap/fase yaitu:
1. Deteksi Insiden
2. Respon Pertama
3. Perencanaan
4. Persiapan
5. Dokumentasi Adegan Insiden
6. Identifikasi Bukti Potensial
7. Pengumpulan Bukti Potensial
8. Pemindahan Bukti Potensial
9. Penyimpanan Bukti Potensial
10. Analisis Bukti Potensial
11. Presentasi
12. Kesimpulan.

Bila ingin berlangganan artikel blog ini, silahkan subcribe dengan email atau dengan RSS feed Disini

Tidak ada komentar :

Posting Komentar